Based on  지코 (ZICO) – She’s a Baby MV

Graphic Designer

Oh My! Onde reenacment Zico – She’s a Baby

Image
Freedom

Setelah tanggal itu…

Adalah tulisan ini gw buat setelah menghitung dan menimbang inti, teruntuk teman-teman yang gw cintai karena Allah. Mulai dari awal kepikiran mau ikutan, sampai sekarang, kata-kata berputar di otak gw, namun belum ketemu yang pas untuk mewakili apa yang gw rasakan kemaren, 1 dan 2 Desember 2016. Aksi itu bagi gw bukan hanya tentang hari H, namun adalah kebimbangan gw dari hari sebelumnya. (Oya, kenapa tulisan ini spesial untuk teman-teman yang gw cintai? Berhubung tulisan ini utamanya gw publish di laman Faceb**k gw, yang list pertemanan sudah gw sensor, sehingga yang menjadi teman gw sebagian besar dan hampir keseluruhan adalah manusia-manusia yang gw kenal dekat, orang yang pernah gw temui, manusia penyusun kalimat yang hasil tulisannya gw sukai. Gw pengen publish tulisan ini, tanpa harus terang-terangan menyinggung orang yang berlain pendapat sama gw, karena apa? karena gw pengen kita saling mengerti, terserah apapun pendapat kalian.

4 hari sebelum Aksi Doa dan Jumatan Super Bersama pada tanggal 2 Desember 2016.

Ada 2 panggilan telfon yang masuk di mobile phone gw. Pertama dari Ibu, kedua dari kakak kelas gw. Saat gw telfon balik, yang mengangkat hanya si kakak (gw maklum, Ibu sangat sibuk). Begitu sapaan dari sana terdengar, nada bicaranya sangat serius. Gw yang awalnya tidur-tiduran sambil nelfon, langsung duduk tegak karenanya. “De, kita akan ke Jakarta untuk aksi 2 Desember, jadi… (blablabla dilanjutkan dengan penjelasan lainnya)”.

Reaksi gw (1) sumringah karena bisa ketemu teman lama, (2) mendadak galau ingat jadwal  untuk Jumat. Tapi, gw tetap menjalankan amanah untuk menghubungi teman lama yang lain. Berbagai jawaban gw dapatkan, dari yang lagi hamil, ada kerjaan, sampe jawaban SIAP dengan semangat. Ngobrol singkat waktu menghubungi mereka, bikin gw lupa bahwa ada 1 perasaan galau yang belum tuntas.

2 malam sebelum Aksi Doa dan Jumatan Super Bersama pada tanggal 2 Desember 2016.

Teman lama gw kembali menghubungi, untuk memberi kabar kedatangan mereka. Gw menyampaikan permintaan maaf, sepertinya gw ga bisa ikut, karena ada jadwal interview untuk menjadi staf pengajar di Universitas Multimedia Nusantara jam 9 pada hari Jumat tersebut. Gw akan usahakan agar setidaknya gw bisa ketemu sama rombongan sehari sebelum aksi, untuk memberikan semangat, dukungan dan doa. Setelah telfon ditutup, gw cek laman Facebook, ternyata ada berita bahwa para santri berdatangan dari Ciamis dengan berjalan kaki, ke Ibukota negara, untuk berjuang di Aksi Doa dan Jumatan bersama ini.

Ingatan gw kembali pada percakapan beberapa jam lalu bersama seorang teman. Saat gw bilang kemungkinan gw untuk ikut 212, dia langsung bilang “Kamu ikut?ngapain sih pake ikut segala?” Gw termangu diam dengan ucapannya sambil angkat bahu. “Bukannya kamu ada interview? udah interview aja lo,” Gw menghela nafas.

“Udahlah ga dibahas, aku tau pendapat kita berbeda, aku jelasin juga, ga bakal ada ujungnya. Well, pokoknya kemungkinan kayanya aku ikut aksi aja, udah.”

Gw padahal saat itu masih berat hati untuk ikut interview aja daripada aksi, toh, palingan cuma kurang satu orang gw ga bakal berasa ya, lagian gw kan lagi berjuang juga untuk masa depan. Allah Maha Mengerti pasti.

Tapi, kemudian gw melihat berita ada yang jalan kaki dari Ciamis, (kalo ga salah kurang lebih 300 km dari Ibukota, CMIIW), ada perasaan lain yang masuk dan membangun pertanyaan di hati gw.

Yakin de ga iri? Yakin de nanti ga nyesel? Yakin de nanti ga nyalahin diri sendiri?

Atas apa? Ninggalin aksi atau ninggalin interview?

1 hari sebelum Aksi Doa dan Jumatan Super Bersama pada tanggal 2 Desember 2016.

Gw berjalan lunglai ke arah Fakultas, efek dari ga bisa tidur semalaman. Berharap agar adek-adeknya ga pada masuk, sehingga gw bisa pulang atau beristirahat di rumah kakak senior gw barang setengah jam. Tapi mereka hadir, meski hanya 4 orang, dan gw tetap mengajar seperti biasa. Beberapa jam kemudian, gw sudah jalan kaki menuju ke rumah senior yang menjadi tempat beristirahatnya teman-teman lama gw. Lunglai dan ngantuk itu masih ada, namun hilang begitu gw bersenda gurau bersama teman lama. Rencana gw awalnya cuma mau ketemu sebentar, abis itu pulang istirahat. Tapi gw malah keterusan ikut silahturahim, ujung-ujungnya nebeng ke tanah abang. Dan galau itu belum berakhir, (meski gw udah kirim email permohonan maaf agar diundur waktu interview ke siang hari ke pihak sana, dan belum dapet balasan juga), hingga gw ketiduran di kereta nyaris sampe ujung pemberhentian terakhir, dan galau itu masiiih belum berakhir, meski gw udah makan sebungkus nasi padang. Galau itu berhenti sejenak, hanya karena gw ketiduran dan lupa pada bahan presentasi, untuk kemudian bangun kembali saat azan magrib.

Jam 9 malam, 1 hari sebelum aksi.

Muwet ngerjain presentasi buat besok, soalnya pikiran masih disana, bersama rombongan teman lama. Gw ambil jalan tengah. Gw beresin perlengkapan aksi dan buat interview. Sempat lama karena lupa belom ngeprint-ngeprint. 1 jam kemudian gw udah lari tergopoh-gopoh menuju stasiun kereta. Lokasi kumpul tiba-tiba diperbaharui, sehingga butuh transit 2x, dan di stasiun transit kedua, gw baru sadar kalo ada batas waktu kereta terakhir (soalnya di stasiun deket kosan yang suara keretanya kedengaran kalo lewat, malam-malam juga masih kedengaran suaranya, kirain kereta tidak pernah tidur. Ha!). Perjalanan malam itu, jam 11.21 malam, gw lanjutkan dengan fasilitas gojek (deg-degan luar biasa sambil doa ga henti dalam hati, semoga Allah melindungi, semoga abang gojek baik, semoga perjalanan gw aman).

20 menit kemudian, gw sampe di rombongan. Ngumpul selama sejam, dilanjutkan dengan tinjau lokasi malam itu juga sambil cari makanan pengisi malam. Sempat sebelumnya salah seorang senior mempertanyakan keputusan gw untuk hadir besok dengan pandangan tegas menusuk mata.

Bismillah, keputusan gw bulat sudah. Gw memilih satu jalan saja, merelakan interview, karena gw yakin, hanya Allah Maha Mengetahui keberkahan takdir gw ada di jalan apa, dan gw yakin saat gw membela agama gw, itu pilihan yang paling benar yang bisa gw ambil, tidak ada keraguan lagi. Gw menerima dengan ikhlas resiko dari keputusan gw. Sampe di hotel udah jam 3 pagi. Namun tekad buat buat ngerjain buat besok presentasi sampe selesai masih kuat. Jika Allah meridhoi, maka besok gw akan diberi kesempatan untuk bisa interview, atau mendapatkan kabar baik lainnya.

Jam 4.30 pagi, bahan presentasi siap disajikan, dan azan sudah berkumandang. Dari jendela hotel gw bisa saksikan, padatnya jembatan penyebrangan menuju mesjid Istiqlal oleh para jamaah yang ingin menunaikan solat subuh berjamaah di Mesjid Istiqlal (dan gw baru tahu, bahwa jamaah juga mengejar solat subuh di Monas).

Btw, alasan gw bersikeras tidak melepaskan kesempatan interview adalah, gw mengakui UMN merupakan universitas yang mampu memberikan kebaikan ilmu pengetahuan berupa kesempatan dan pengembangan bagi gw. Sekali awal gw menginjakkan kaki di universitas itu, gw punya harapan untuk bisa bergabung disana, terlepas dari alasan yayasannya apa dan bagaimana, gw adalah orang yang memandang dari apa yang gw saksikan dan rasakan sendiri, jadi alasan perbedaan background itu sama sekali tidak menganggu gw.

Yang mau gw tekankan pada tulisan ini adalah bahwa, tidak hanya gw si tukang galau, setiap peserta aksi, ikut dengan alasan mereka sendiri yang gw yakin adalah demi Allah dan agama-Nya. Tekad mereka untuk membela dan menjaga agama mereka, tanpa mengharapkan apapun balasan di dunia, dengan ikhlas menyisihkan gaji untuk membiayai perjalanan, menguatkan hati dan diri untuk berangkat menyisiri jalanan panjang dengan berjalan kaki, meninggalkan keluarga yang dicintai di rumah dengan persiapan mental berjihad apapun keadaannya nanti di lapangan, atau berani membawa serta anggota keluarganya (gw menyaksikan sendiri sewaktu bubar dari Monas, satu keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu muda serta 4 orang anaknya yang masih kecil bahkan balita, tidak terlihat lelah dan gentar berada dalam kerumunan padat jamaah. Anak-anaknya tidak menangis, hanya sesekali bersandar pada kaki ayahnya). Mereka tidak bodoh ataupun dibodohi Teman, yakinlah itu. Karena yang menggerakkan mereka adalah bukan bisikan tetangga bisikan bos, tetapi bisikan dari hati kecil mereka.

Mari kita saling mengerti, menghargai pilihan yang berbeda dengan memaklumi, tidak mencaci atau mengkritik, janganlah omongan yang tidak sepantasnya kalian lontarkan pada kami yang memilih jalan ini, memancing kami sehingga merusak amal ibadah yang telah kami niatkan dan lakukan lillahi ta’ala. Apapun yang terjadi sebenarnya menurut pemahaman kalian dan itu berbeda dengan fikiran kami, tidak mengapa Teman. Sekali lagi, jangan sadis, jangan tega, jika tidak bisa membantu membangun pahala kami, maka jangan kurangi pahala ibadah kami.

Salam sayang dari gw.

Standard

ade-3-2-02

Pengen banget punya yang bagus biar bisa ditempel di dinding kamar, belajar lagi, lagi belajar… Bisa dibilang kalo ini versi ‘extreme’. Selama ini selalu malu-malu, takut-takut, batas-batas kalo bikin apa2. Timid person banget… Well, on progress while on escape lah ya. Keep going de, keep going…, unless you’re dying. Yash!

Enjoy Life, Graphic Designer, I am Studying

Do Extreme, Don’t Think!

Image
Freedom

Dulu, aku pernah punya ayah

Dulu, aku punya ayah.

Meskipun aku jarang menghubunginya, karena hanya satu caller id yang selalu menghubungiku. Namanya Papi.

Aku anak yang nakal, kadang kesal saat sekali dalam jarangnya itu aku menghubungi ayahku, ayahku menjawab dengan buru-buru, “sehat nak?sudah makan? sekarang sedang dimana?” begitu mendengar jawabanku, ayahku menyambung dengan “sebentar lagi papi telfon ya, papi sedang ada urusan sebentar,”. Hanya sekali itu, dan aku bahkan kesal.

Aku anak yang lemah, sering sakit karena ulahku sendiri. Dan aku akan terus tidur untuk meredakan sakitku. Namun deringan telfon akan membangunkanku. Papi yang menghubungiku. Minggu ini sebelumnya telfonku sunyi tidak berdering. Aku lalu akan berdehem, mengatur suaraku, lalu menjawab telfon.

“Sehat Nak?” suara lirih itu menyapa telingaku.

“Alah makan Nak?Kok balain suaro, sakik Nak?” Ah! sepertinya usahaku gagal.

“Ade sehat Pi,” itu jawabanku. Namun ayahku akan meneruskan semua deretan nasehatnya yang panjang, hingga akhirnya aku baru bisa memotong dengan “Papi sehat?”

“Sehat, sehat…” diiringi suara batuk beberapa kali. Ayahku jago sekali berbohong. Kemudia bergantian nasehat keluar dari mulutku. Mulai dari larangan minum kopi, pakai jaket, pakai masker, bawa air minum kemana-mana, dan jangan pulang malam. Kami bergantian peran.

Aku malas menghubungi ayahku, karena efeknya membuatku kesal. Setiap panggilan akan menyisakan beberapa waktu untukku menarik nafas, lalu beberapa bulir airmata akan turun. Aku malas menangis ketahuan ayahku, padahal aku anak manja. Jika aku menangis, ayahku akan bergetar suaranya membujukku dengan “Sudah naaaak, Papi ga bisa… ade nangis gini, Papi ga bisa,” jawabannya membuat bulir itu semakin deras turun.

Aku yang berada di rantau, sekuat hati tetap bertahan merantau, karena merantau bagi Ayahku adalah harapan, meski dia mengantarku dengan mata berkaca-kaca, meski aku ingin pulang dengan mendengar suaranya.

Aku anak yang nakal, jarang menghabiskan waktu bersama ayahku. Jika aku pulang, ayahku akan mengiringiku kemana-mana. Kami bersisian berjalan kaki mengelilingi pasar kota, sambil mendengar ayahku menceritakan nostalgianya. Ayahku akan selalu bertanya, “Mau makan apa Nak? Sate Inyiak, bakso biaro, Soto Aminah?” Aku memilih pisang santan saja. Setiap kali ke kedai itu, rasa pisang santannya berbeda, ada rasa nostalgia, masa lalu, dan kerinduan. Ayahku yang mengajarkanku. Tiap masuk ke kedai itu, ayahku memandang sekelilingnya, lalu mulai bercerita, cerita dia dulu, berpuluh-puluh tahun lalu. Lalu sepulang dari kedai itu, ayahku akan menyetir mobilnya mengambil jalan memutar jauh, dan ujungnya kami akan berbalik, menghampiri kedai soto, sate, atau bakso.

 

Dulu, aku punya ayah.

Sekarang, keadaan berbeda… namun aku tetap punya ayah yang sama.

Standard
Freedom

UNTUNG JALAN-JALAN KE MALANG, [PART 2] Museum Satwa

Perjalanan ke Malang dari Senen ternyata memakan waktu 15 jam [lagi-lagi gw baru sadar pas udah terjadi]. Kereta melewati beberapa provinsi sebelum akhirnya sampe di stasiun Malang Kota Baru [gw kebangun di stasiun tegal – semarang, tidur, solo jebres, tidur, blitar-kesamben, tidur lagi, bangun-bangun udah sampe aja di Malang Kota Lama]. Yah dengan 15 jam, gw udah ngelewatin sebagian besar provinsi di pulau Jawa. [Takjub !>0<!]

jadwal-matarmaja-2015

Harga tiket matarmaja ekonomi Rp109.000 plus biaya aplikasi(?) Rp7.500, total Rp116.500. Sumber gambar :www.stasiunbandung.com

Selama di perjalanan, ada beberapa daerah yang sinyal internet ga dapet (gw pake im3). Pas cek lagi di Malang Kota Lama, baru baca pesan dari masJon yang nanyain udah sampe dimana. Dia cuma punya waktu 10 menit menuju ke stasiun Malang dari rumahnya buat nyambit eh nyambut gw [ga mungkin secepat itu, kayanya dia udah jalan duluan ke stasiun. Haha]. Daaaaan, akhirnya gw berdiri juga di kota Malang [ini serius! gw bertahan selama 15 jam di kereta ga berdiri, ga jalan, diem dan duduk aja].

Gw ketemu masJon yang lagi ambil duit refund kereta dia. Wes, yang udah jadi dosen, jam 8 pagi udah rapi pake kemeja, biasanya kalo pagi ketemu gw malah wajah baru bangun. [Wakakakaka]. Gw langsung nagih makan, dan well dia ngajak nyobain nasi pecel sambil jelasin tempat-tempat yang kita lewatin.

mengenal-6-nasi-pecel-khas-jawa-timur

Penyajiannya pecel tanpa piring. Sumber gambar: http://www.bacadata.com

Sampe di warung nasi pecel di daerah soekarno hatta kira-kira jam setengah 9 ato jam 9 [segitu lah], dan warung itu lumayan sudah rame. Gw takjub dengan cara ngidangin nasinya yang langsung pake alas daun pisang yang dilipet, dan porsi setengahnya yang menggunung! Oya, pecel ini ada satu sayuran yang baru pernah gw coba, yaitu kembang turi.

kembang-turi

Kembang turi. Sumber gambar: diahdidi.com

Maklum, masakan di minang kayanya ga ada bahannya pake kembang ini, tapi pas gw coba, enak. Kalo ntar nemu di rumah kembang ini, bakal coba dijadiin sayur juga.

Setelah makan, berhubung kosan bakal gw inep baru boleh dimasukin jam siang, pagi itu gw nebeng rapi-rapi dulu di rumah kakak perempuannya masJon. Ga ada kata istirahat kayanya di itinerary yang dia susun, gw langsung diajak pagi itu juga ke Batu. Jadi katanya masJon, Batu bagi Malang seperti Lembang bagi Bandung. Jadi tempat wisata kebanyakan ada di Batu. Nah, kunjungan pertama gw adalah Museum Satwa yang sebelahan sama Batu Secret Zoo.

ujjkm-2

Sebelum kesana, pas cari wisata malang di gugel, gw penasaran sama museum satwa ini. Katanya mirip museum di movie night at the museum. Dan pas udah di depan mata gw museumnya, lelah gw selama di kereta terbayarkan. Sebelum masuk, ada gajah2an untuk di bagian depan gedung. Spot foto nih disini!

P1000404

Thanks Jon, udah bantu foto. Ho!

P1000430

rangka dinosaurus udah menyambut dari awal. tiket masuk untuk museum satwa plus batu secret zoo weekday Rp75.000, weekend Rp105.000

kalo yang ini katanya binatang asli yang diawetkan.

P1000441

p1000434-copy

Banyak yang bisa dilihat di Museum ini, koleksi hewan lumayan lengkap, saking lengkapnya gw kabur di reptil space. Ga sangguuuup! Kalo kata masJon mah, liat yang aslinya aja di Batu Secret Zoo, yang akan gw share di part selanjutnya yaaaaa.

Standard
Freedom

untung jalan-jalan ke malang, [part 1] Goyang-Goyang Anxious

Gw mau share perjalanan gw mendadak ke kota Malang. Rencana ini awalnya cuma angan-angan kepengen aja. Kira-kira 6 bulan yang lalu si zizA pamer foto-foto tempat wisata di Malang yang pengen dia datengin waktu berkunjung. Kebetulan gw lagi ikut nyimak, dan cukup merasa terpanasi. Kok menarik ya? Tapi gw bakal kesana kapan?

Angan itu tersimpan gitu aja. Berkali-kali gw pengen jalan sendiri lagi ke kota/negara yang belum pernah gw datangi, tapi karena 1, 2 atau 3 hal, kondisi batin dan fisik gw belum memungkinkan gw jalan sendiri. Tapi tetep kalo ada sepupu yang rencana mau jalan-jalan, gw selalu saranin, “Yuk ke Malang!”

Nah, niatan ini menguat di hati waktu kemaren tiba-tiba gw celetuk ke masJon, “kalo gw tiba-tiba ke Malang nih, kira-kira bakal abis berapa ya duitnya?”, sambutan masJon langsung “Ayok dateng aja!”.

Oke, gw dari saat itu mulai liat jadwal, kira-kira jadwal gw yang kosong melompong sekarang masih bisa gw pake jalan-jalan sekitar 5 hari. Gw hubungi semua temen cewek yang kira-kira berada di Malang atau sekitarnya. Hubungi Naninga, tapi jadwalnya belum tentu kapan bisanya. Hubungi Nadiso, gw ragu pas tanggalan dia lagi kedatangan tamu. Well, kalo gw tunggu lagi, semangat gw ini kayanya bakalan luntur. Jadi, sekarang atau tidak!

MasJon sama Nyinyis gw kabarin kalo gw mau main kesana. MasJon tetep masih semangat nerima ajakan gw, sementara Nyinyis… Alhamdulillah, kakak ini ternyata malah ngasih gw kabar bahagia, namun bikin dia ga bisa kemana-mana setidaknya sampe si calon ponakan kecil kuat di ajak jauh.

Ada juga kabar lain kalo Mando mau main ke Malang juga sehabis dari Thailand. Gw langsung hubungi Mando, dan… Voila! dia bilang akan ke Malang minggu depan! Tanpa tunda lagi, gw pesen tiket kereta ke Malang dengan keberangkatan 3 jam sehabis ngajar. Begitu udah dapet tiket, gw hubungi Mando lagi dan dia bilang, “Aku ada interview rabu, kayanya ditunda beberapa hari ke Malang, tapi aku usahain tetep kesana langsung abis interview,”. Feeling gw langsung bilang, gw harus tetap jalan meski tanpa Mando.

Untung gw punya temen jago bener nge-guide wisatawan [haha]. Gw serahin aja ke masJon untuk itinerary selama disana, karena gw udah tetapin, judul perjalanan gw ke Malang adalah ‘let it flow’, alias ga pake rencana. Dan benar, nanti akan gw jelasin gimana ‘rencana’ gw ga salah.

Eit! belom sampe ke Malang lo ini ceritanya, karena perjalanan dari Depok ke stasiun aja gw udah drama. Gini, gw harusnya jam 12 teng udah kelar ngajar. Kereta ke Malang dari stasiun Senen adalah jam 15.15, dan gw naik Ekonomi, jadi bayangannya adalah Ekonomi ga seketat Eksekutif dalam jadwal. Gw itung kira-kira 15-30 menit gw akan sampe kosan, balik lagi ke stasiun UI 30 menit setelah sholat, makan dan ganti baju. Menurut Maps, perjalanan dari stasiun UI sampe stasiun Senen adalah 1 jam 12 menit, dengan 2x transit di Manggarai dan Jatinegara, maka gw akan punya waktu mungkin 30 menit sebelum 15.15.

Realitanya, adek-adek gw di kelas nambahin gw waktu di kelas kira-kira 15 menit. Gw masih positif thinking, kalopun kereta lama, gw naik Gojek aja sampe Senen. Gw lari ngebut naik jembatan aborsi Kober, sampe kosan langsung solat, ganti baju, sambil makan mesen gojek. Satu yang ga gw sadari, Gojek gamau terima order yang lebih dari 25km. Gw lari buru-buru ke stasiun UI, angkat koper naik-turun jembatan aborsi Kober [gw udah ga kepikiran alternatif lain -_-].

Perjalanan ke stasiun Senen di luar perkiraan gw. Ternyata kereta ke Bekasi dari Manggarai itu (gw harus naik ini untuk ke Jatinegara) lamalama! dan kereta dari Jatinegara ke Senen itu, lamalamalamalama! di stasiun ini gw mulai goyang-goyang anxious [heee], celingak celinguk mandangin rel kereta api, berharap kepala kereta segera muncul. Gw perhatikan kiri-kanan, tanya-tanya mbak sesama penumpang. Kebetulan mbak yang gw tanya mau ke Senen juga. Mbaknya mau ke Semarang katanya. Gw ngobrol aja (read:curcol), biar gelisah di hati menghilang. Gw trauma ditinggal kereta Eksekutif di depan mata waktu mau ke Jombang dulu [huhu]. Ga percaya gw ada adegan bisa kejar-kejaran buat naik ke gerbong kereta, khayalan sutradara semua itu!

skip cerita, dan gw sampe di stasiun Senen. Gw gataw kalo ternyata gw harus naik turun tangga lagi buat ke stasiun antar provinsi di Senen. Gw lari seret koper sana-sini [petugas stasiun udah ngumumin kalo kereta Matarmaja ke Malang berangkat 2 menit lagi!], ngeprint tiket kereta [say goobye sama mbaknya disini setelah dia bantuin gw ngeprint tiket], seradak-seruduk nyari gerbong, dan… Yeay! adegan kereta jalan duluan itu ga terulangi! Alhamdulillah…

Oke Malang! Gw datang! ujjkm

Standard
Freedom

Belajar ikhlas yang tidak pernah habisnya

Kisahku bukan kisah romansa cinta

Kisah ini lebih menjadi kisah mencari makna ikhlas, belajar mengikhlaskan

Belajar membuktikan tidak ada satupun yang nyata milikku

 

Jikalau dia sedang singgah di tanganku, bukan berarti aku dapat terus menggenggamnya

dia akan diambil, dia akan diambil.

 

Lalu hidup apa menjadi berakhir?

tidak, hidup itu terus berlangsung

terus berjalan, tetap hiruk, semakin ramai

tidak peduli ada yang merasa, hidupnya berakhir di satu titik

bumi… akan terus berputar

 

Ikhlas itu, ingat tidak definisi yang pernah aku ucapkan?

ikhlas itu, berusaha melakukan yang terbaik – menyerahkan hasil pada-Nya –  dan akan tetap melakukan yang terbaik.

Standard