as Writer

Bagaimana jika aku depresi (2)

Bagaimana jika aku depresi? Part 1

Kalo gw ga salah ingat, 2 bulan setelahnya gw harus kembali ke kampung halaman, kakak gw yang tadi gw ceritakan, masuk rumah sakit. Gw pulang untuk bergantian menjaganya bersama kakak tertua gw. Selama di perjalanan gw menangis, berfikir bahwa mungkin gw tidak akan bisa meneruskan studi gw hingga akhir. Gw pulang dengan perasaan tersebut.

Ternyata keadaan kakak gw tersebut semakin banyak komplikasi penyakit dalam tubuhnya. Jadi semenjak mentalnya sakit, berat badannya pun naik dengan dratis. Begitu ayah gw tempat bergantungnya selama ini tiada, penyakitnya semakin parah. Ditambah kesedihannya membuat dia seperti tidak punya harapan. Secara psikologis, sudah beberapa kali kami merujuk ke rumah sakit jiwa untuk penanganan yang lebih baik, namun karena masalah penyakit psikis seperti jantung, hati, diabetes hingga stroke setengah badan yang dia idap, rumah sakit jiwa menolak. Mereka beralasan bahwa mereka tidak mampu menangani penyakit separah itu. Kami bawa ke rumah sakit umum, mereka juga tidak mampu menerima karena alasan yang lebih sering kumat adalah penyakit kejiwaannya.

Gw dan kakak gw mengalah pada keadaan, kami membawanya pulang ke rumah kakak untuk merawatnya di rumah, karena tidak ada rumah sakit yang mau menerimanya.

Banyak yang terjadi, selama sebulan gw berada di kampung halaman. Mental dan fisik gw dan kakak-kakak gw benar-benar diuji. Setelah sebulan gw berada di rumah, kakak tertua menyuruh gw balik untuk meneruskan tesis gw, dengan harapan sesegera mungkin gw menyelesaikannnya, maka masalah dapat terselesaikan satu persatu.

Gw lalu kembali ke Bandung dengan perasaan yang tidak menentu. Gw masih ingat di hari keberangkatan gw ke bandara, paginya gw rajin sekali membuatkan sarapan nasi goreng. Almarhumah sudah lama ingin makan nasi goreng, tapi dilarang karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Dia sepagi itu juga bangun, lalu mondar-mandir di belakang gw, ngintilin gw yang tumben rajin masak. Gw masih ingat, saat gw mengajak dia sarapan bersama di meja makan, dia melahap nasi goreng tersebut, kemudian minta tambah. Biasanya gw akan sangat marah jika dia makan terlalu banyak, tapi kali itu gw dalam diam menambahkan nasi dan telur ke piringnya.

Gw masih ingat, saat itu ketika gw mau berangkat, gw berpamitan dengan almarhumah sambil meminta maaf, dia berpesan pada gw sambil terbata-bata,”Ade cepat selesaikan tesis ya, biar ade cepat pulang, biar bisa nemenin disini,”. Gw hanya mengangguk tanpa terfikirkan apapun.

Gw kemudian pulang ke Bandung. Amanah untuk menyelesaikan tesis kemudian menjadi beban. Gw mulai malas untuk makan dan bangun, sehari-hari lebih memilih diam bermenung tanpa ada keinginan bangkit dari tempat tidur. Berhari-hari gw seperti itu, hingga kemudian entah apa yang muncul di benak gw, dengan sisa tenaga dan semangat, gw berangkat ke kampus, namun bukan untuk mengerjakan tesis. Gw akan menemui konselor di kampus gw. Dengan fikiran yang tidak fokus gw bertemu dengan seorang konselor, kemudian gw menceritakan tentang masalah gw dan kakak gw. Ibu tersebut menyarankan gw untuk bertemu pada sesi selanjutnya dengan seorang konselor lain.

Gw pulang masih dengan fikiran yang tidak fokus, namun muncul sedikit semangat dalam fikiran gw, berharap bahwa apa yang telah gw lakukan dan apa yang gw lakukan akan membukakan jalan.

2 hari kemudian, sesi kedua gw. Gw ketemu dengan konselor yang berbeda, menurut Ibu yang kemarin gw temui, Ibu ini fokus pada peredaran darah dan titik-titik refleksi. Jadi hari itu gw menceritakan lagi perihal keadaan gw, lalu disuruh menggambar di atas secarik kertas, kemudian Ibu tersebut memberikan pijatan pada bahu gw. Beliau bilang kalau bahu gw sangat kaku, dan wajah gw suram. Saat gw ceritakan mengenai masalah kakak gw, beliau berkata bahwa yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah masing-masing personal dari keluarga kakak gw, pada saat itu berarti gw harus membantu diri gw dulu baru bisa membantu kakak gw. Kita kemudian membuat janji minggu depan untuk sesi selanjutnya.

Beberapa hari kemudian gw kembali mendapat telfon dari rumah. Kebetulan kali ini ponakan gw sedang berlibur di kosan gw. Berita dari rumah adalah, kakak gw telah berpulang ke Rahmatullah.

Jika saat ayah gw meninggal 3 bulan yang lalu itu, gw menangis sekencang-kencangnya, maka kali ini gw tidak sehisteris itu, hanya yang keluar dari gw adalah isakan dan astagfirullah yang berulang kali gw katakan. Gw bahkan memberitakan pada ponakan gw, menyuruh dia menelfon rumah, kemudian gw tidur sambil bersandar lagi. Kali ini kakak tertua gw memutuskan agar gw tidak usah pulang, selain karena sebaiknya keadaan kakak gw yang meninggal di rumah sakit ini segera dimakamkan, alasan lainnya adalah tepat seminggu lagi jadwal pra sidang kedua gw. Ponakan gw yang akhirnya menemani gw selama di Bandung.

Mungkin terlihat gw lebih tenang saat menerima berita. Gw masih melanjutkan pra sidang gw, yang disusul seminggu kemudian dengan sidang akhir dan revisian.

Namun begitu ponakan gw sudah kembali pulang, revisian sudah selesai, gw kembali ke kehidupan nyata gw. Perasaan dan tekanan penyesalan, rasa bersalah dan ingatan-ingatan gw dari masa gw awal melihat dia sakit secara kejiwaan hingga sebulan yang lalu saat mengurusnya hilang timbul di fikiran gw. Gw kembali jarang makan dan malas bergerak, lebih sering menangis sendiri di kamar, dan malas berhubungan dengan orang lain.

Dalam keadaan demikian, gw menerima pesan untuk sesi selanjutnya dari konselor gw. Gw masih ingat saat itu bulan puasa. Yang terfikir saat itu adalah, apa yang akan gw lakukan setelah ini. Dengan keadaan gw yang tiada semangat, pandangan masa depan sulit dibayangkan, perasaan yang kosong dan jikalau ada yang muncul, hanyalah kembali ke lingkaran semula yang diiringi dengan rasa sakit dan sesak di dada, gw datang memenuhi jadwal tersebut.

Saat bertemu dengan konselor, dia mengatakan bahwa pada mata gw kembali tidak ada cahaya. Gw diminta untuk menceritakan apa yang gw rasakan. Gw mulai dengan menceritakan dari kepergian ayah dan kakak gw. Kebingungan gw dengan apa yang terjadi pada diri gw sendiri dengan hilangnya harapan gw. Hingga penyesalan dan rasa bersalah yang gw rasakan untuk kakak gw.

Saat menceritakan itulah, gw merasakan kebas mulai dari ujung jari tangan hingga ke wajah gw. Dingin namun keringat membanjiri pelipis gw. Gw menggigil, kaget dengan perubahan kondisi gw yang tiba-tiba tersebut. Dada gw kembali sesak, lalu gw mulai panik. Sambil menangis, gw meminta bantuan pada Konselor tersebut karena gw bingung dengan apa yang gw rasakan saat itu.

Konselor kemudian menyuruh gw untuk menangis sejadi-jadinya, untuk mengeluarkan segala amarah dan perasaan yang gw pendam. Dia mendengarkan sambil menunggu reaksi gw, kemudian memberi gw minum. Saat itulah gw merasakan dengan sendirinya, seiring dengan gw yang mengeluarkan semua perasaan gw, sesak di dada berangsur menghilang. Konselor mengatakan juga bahwa apa yang terjadi itu adalah kuasa Allah, bukan salah gw dan bukan karena kurangnya ilmu gw. Semua itu merupakan perjalanan yang diamanahkan pada gw sebagai hambanya, karena Allah Maha Tahu, seperti apa bekal gw untuk menghadapinya.

Sama seperti yang sudah berkali-kali ustad dan orang bijak bilang, bahwa masalah itu ujian, sama seperti kita ujian untuk naik tingkat sekolah. Namun satu hal yang kadang lupa gw fikirkan dari kalimat itu, bahwa seorang guru jika memberikan soal pada muridnya adalah sesuai dengan apa yang sudah guru tersebut ajarkan pada muridnya selama ini, tidak pernah lebih berat dari itu. Seorang guru kelas 1 SD, hanya akan membuat soal sesuai dengan bahan ajar yang pernah dia berikan selama setahun mengajar murid kelas 1 SD, soal ujian akhir kelas 6 SD hanya akan berkisar mengenai apa saja yang pernah diajarkan guru dan dipelajari oleh si murid dari kelas 1 SD hingga kelas 6 SD. Tidak mungkin murid kelas 3 SD mendapatkan soal ujian dengan bahan ajar yang dipelajari pada kelas 5 SD atau kelas 1 SMP, itu sangat tidak mungkin.

Seperti itu juga dengan ujian yang diberikan oleh Allah pada hambanya. Allah memberikan hint, petunjuk, pembelajaran, pengetahuan selama hambanya tersebut hidup hingga dia mendapatkan masalah. Kadang hambanya merasa tidak sanggup, karena mungkin selama ini dia lupa, dia tidak mengambil pelajaran dari pengalamannya dan pengalaman orang lain, jarang mengingat kembali pembelajaran yang telah usai, dan hanya sibuk memandang ujian tersebut dan kemungkinan dia akan lulus atau tidak dalam ujian tersebut, kadang ada juga yang berfikir tentang kehidupannya setelah ujian tersebut, sementara dia masih ragu, takut dan tidak tahu cara menghadapi ujiannya saat ini.

Maka jika kita merasa terdapat tanda-tanda depresi yang kita rasakan, atau lebih parah lagi, maka,

Ceritakanlah masalahmu pada orang yang kamu percaya, namun jangan berharap dia akan memberimu solusi. Percayalah bahwa dengan bercerita saja, masalah beban di hatimu sudah mulai berkurang.

Ingatlah pada saat kamu berhasil melewati ujian-ujian sebelumnya, ingatlah pengalaman orang-orang sebelum kamu. Jika masalahmu berbeda dengan orang lain dan masalah sebelum ini, percayalah hanya formulanya saja yang ditukar-tukar. Patternnya tetap sama, dan bisa diupgrade dan dikombinasikan.

Jika hanya percaya bahwa setiap orang punya masalah belum bisa membantu meringankan bebanmu, maka katakanlah pada dirimu sendiri bahwa memikirkan masalah mereka kecil atau besarnya, selesai atau tidaknya, bukanlah tanggung jawabmu.

Sering mendengarkan masalah orang lain untuk menjadi pembelajaran, namun jangan jadikan empati malah merusak dirimu sendiri. Mungkin mereka juga sama dengan poinmu yang pertama, mereka hanya butuh didengarkan dengan sopan.

Bersama-samalah berdoa agar diberikan kelapangan hati untuk menghadapi masalah. Dengan saling mendoakan, maka beban orang yang akan dia bagi denganmu akan berkurang, begitu juga dengan bebanmu yang akan kamu bagi dengan orang lain.

Lihatlah masalahmu dari segi pandang orang lain melihat masalahmu. Belum tentu sebenarnya seberat kamu melihatnya dari sisimu.

Dari gw yang tiba-tiba pengen curhat nulis malam-malam

Wassalam.

 

 

Advertisements
Standard
as Writer

Bagaimana jika aku depresi?

Beberapa hari ini perbincangan masalah depresi ada dimana-mana. Discovery instagram lebih sering memunculkan masalah ini. Ini berkaitan dengan seorang member boyband dari Korea yang mengakhiri hidupnya, diberitakan karena depresi. Reaksi gw pertama denger ini kaget, itu wajar, dan semua orang gw rasa juga sama. Reaksi gw kemudian adalah berfikir, ada apa dengan fikiran dia, seberat apa bebannya hingga dia memutuskan hal tersebut. Kemudian terlintas dalam benak gw, menyedihkan jika orang-orang yang berfikir bahwa masalah mereka juga berat, mereka juga depresi dan merasakan hal yang sama, kemudian juga mengikuti langkahnya. Gw khawatir pada rekan kerja almarhum ini, orang terdekatnya dan para fansnya. Kemudian hari selasa, sore saat ngaji, kita ngebahas salah seorang kenalan Mbak Fe, teman gw, yang dia katakan schizophrenia. Gw ga membahas disini dalam kadar apa tingkat schizophrenia-nya, tapi kita katakan saja dari gejalanya dengan depresi berat. Lagian ilmu gw untuk membahas ini kayanya belum terlalu mendalam. Biarlah teman-teman psikolog yang bisa bantu menjelaskan.

Everyone pernah depresi, tingkatnya mungkin berbeda, karena apa yang dihadapi berbeda, pengalaman menghadapi juga berbeda, kemudian kekuatan untuk menghadapi juga berbeda. Gw pertama kali mengetahui kalau gw depresi adalah dari salah satu temen kuliah gw. Dia kuliah jurusan psikolog, dan dia saat gw curhat kegelisahan gw terhadap diri sendiri, dengan santainya dia bilang, “Ya, emang lu gila,”. Jawaban dia bikin gw terhenyak, namun dia melanjutkan ,”Tapi gw juga gila de, orang itu juga gila, jika disini lu mengatakan bahwa depresi itu gila,”. Gw alhamdulillah mengenal beberapa teman yang kuliah di bidang psikologi dan cukup dekat dengan mereka sebagai tempat curhat. Bahkan gw sudah membiasakan diri untuk curhat ke guru BK gw semenjak dari kelas 2 SMA. Beruntung gw menemukan beberapa guru-guru BK yang cocok dengan gw. Senang rasanya mengetahui bahwa keputusan gw sekolah disana menuntun gw hingga menjadi seperti ini.

Background gw sendiri, honestly, gw sudah bersinggungan dengan personal yang depresi berat semenjak gw SD, yaitu kakak gw, semoga almarhumah diampuni Allah SWT. Semua pengalaman gw berinteraksi dengannya, banyak mempengaruhi psikologis gw. I often cry hard, berteriak keras, sangat sensitif, karena ini gw anggap sebagai masalah dalam kehidupan gw, dan saat itu belum ada seorang pun yang mengetahuinya dan membantu gw menangani psikologis gw. Semua anggota keluarga gw, berjuang dengan dirinya sendiri itu tetap survive, dan gw dari SD sudah terbiasa dengan itu.

Haha, dulu gw sangat malu untuk mengakui hal ini pada siapapun, mungkin hanya benar-benar orang yang gw percaya yang akan gw ceritakan ini, karena persepsi orang dulu yang belum terbiasa dengan kata schizophrenia atau depresi. Lingkungan gw hanya mengenal 2 masalah tersebut dengan satu kata, yaitu Gila. Fikiran gw diusia belia tersebut adalah, jika orang tahu tentang masalah ini, maka mereka akan menjauhi gw karena merasa gw akan mengalami hal yang sama. Hufh…

Alhamdulillah kemudian dalam perjalanan gw menuju dewasa, gw dipertemukan Allah dengan orang-orang yang secara tidak sadar membawa gw untuk berpengalaman dan  berfikiran lebih terbuka.

Saat Mbak Fe kemaren menceritakan mengenai kenalannya itu, gw ikut memberikan beberapa saran kepada Mbak Fe untuk menghadapi seseorang yang depresi, baik depresi ringan ataupun berat. Ini benar gw pelajari dari pengalaman selama lebih kurang 15 tahun menghadapi almarhumah kakak gw. Ya, tahun 2016 yang lalu kakak gw tersebut sudah mendahului kita dikarenakan penyakit komplikasi yang juga menyerang tubuhnya. Semoga amal ibadahnya diterima Allah di sisinya.

Gw kali ini ingin cerita sedikit tentang kondisi gw di tahun 2016. Gw sangat yakin everybody have their own problem. Mungkin pengalaman gw ini hanya sebesar remahan biskuit, tapi gw ingin mensarikannya menjadi pembelajaran untuk diri gw sendiri juga.

Awal tahun 2016, bulan januari tanggal 12, menjelang magrib. 5 hari lagi menuju pra sidang pertama tesis gw. Gw masih ingat, gw saat itu sedang nonton acara Return of Superman, salah satu variety show dimana para ayah bergantian menjaga anaknya. Acara itu sangat lucu, karena ulah anaknya, kadang karena clumsy ayahnya, jadi seringkali gw menonton sambil ketawa terbahak-bahak.

Ponsel gw berdering. Magrib itu di Bandung, dalam kamar kosan gw, gw menerima kabar bahaa mendadak ayah gw telah tiada. Iya, mendadak, karena beliau kami keluarga tahu tidak mengidap penyakit yang mengharuskannya menginap di rumah sakit. Beliau pergi mendadak begitu saja, bahkan menurut cerita Ibuk, beliau pergi setelah ceria menelfon menanyakan kabar teman satu persatu. Lengkaplah sudah gw menjadi anak yatim piatu.

Gw tidak siap, itu pasti. Ketidakpercayaan menggerogoti, gw menolak untuk percaya bahwa saat itu, di jam itu, di hari itu, gw telah menerima kabar bahwa beberapa saat sebelumnya ayah gw telah tiada. Magrib itu gw menangis sekencang nafas gw. Gw sibuk menangis berusaha untuk menghilangkan fakta memori gw.

Teman kosan gw heboh menggedor pintu, Ibu kosan gw berlari ke kamar gw, mereka menanyakan ada apa. Gw menjawab sambil terus menceracau,”Ade ga kuat,”. Beruntung gw memiliki Ibu kosan yang sangat baik, beliau memeluk gw erat sambil istigfar dan entah apalah yang beliau katakan untuk mengembalikan kesadaran gw. Gw juga ingat punya teman kosan yang baik, yang menggenggam erat tangan gw.

Hum, semua itu masih segar diingatan gw, butuh beberapa menit untuk Ibu Kosan menenangkan gw. Setelah berhenti menceracau, gw menelfon abang gw, yang ternyata belum tau sama sekali. Gw menelfon kakak sepupu gw untuk memberitakan kabar tersebut juga.Gw menelfon Ibu angkat gw, dan menelfon teman terdekat gw, Pipim, agar dia datang, dan memberi support ke gw. Ya! benar! Gw mencari support dari mereka yang akal sehatnya kuat menyadarkan gw pada kondisi sebenarnya.

Gw merasa diri gw biasanya selalu bertindak untuk bersembunyi dibalik topeng sok kuat mental. Tapi saat itu gw mengaku kalah pada diri sendiri, gw mulai mengais rasa sayang dan kasihan dari orang-orang yang gw percaya mampu memberikannya dengan benar. Gw bertekad menggunakannya sebagai bekal gw menuju ke kampung halaman.

Hum, gw masih ingat secara sekilas ibu kosan gw menyembunyikan pisau buah yang memang gw simpan di dalam kamar. Gw juga masih ingat apa yang gw katakan saat itu membuat Ibu kosan menjadi terbata-bata. “Insya Allah Ade kuat Bu, Ade ga akan berfikiran untuk melakukan yang tidak-tidak. Ibu kuatkan Ade,”. Si Ibu yang orang asli Batak tersebut bisa terdengar dari ucapannya menjadi salah tingkah,”Maaf De, Ibu akan percaya ade kuat. Tapi untuk sekarang, Ibu lakukan pencegahan dulu ya,”.

Gw juga ingat, begitu kakak sepupu gw datang untuk mengantarkan ke Jakarta malam itu, gw meminta bantuan pada Pipim dan Lay untuk untuk mengerjakan sesuatu, sesuatu yang gw rasa paling penting untuk gw di masa depan.

“Pim, Lay, gw minta tolong, dengan sangat, sepulangnya gw, tolong ubah kembali kamar ini keadaannya seperti tidak pernah ada kejadian apa-apa. Gw butuh banget hal ini agar hidup gw kembali normal nanti, sekembalinya gw kesini”. Thanks Allah, engkau anugerahkan aku dengan teman-teman yang baik.

Kemudian gw pulang selama hampir 3 minggu berusaha untuk menguatkan diri dan mengembalikan harapan gw lagi. Selama 3 minggu itu, menurut kakak sepupu gw, setiap pembicaraan gw seperti menyesali nasib diri, merasa diri paling tidak bahagia. Gw mengeluh, penuh amarah dan kalimat sarkas yang intinya mengasihani diri.

Gw kembali ke Bandung dengan kondisi tersebut untuk persiapan menuju pra sidang. Gw menyibukkan diri, mengais semangat dari teman-teman gw.

Kalo gw ga salah ingat, 2 bulan setelahnya gw harus kembali ke kampung halaman, kakak gw yang tadi gw ceritakan, masuk rumah sakit. Gw pulang untuk bergantian menjaganya bersama kakak tertua gw. Selama di perjalanan gw menangis, berfikir bahwa mungkin gw tidak akan bisa meneruskan studi gw hingga akhir. Gw pulang dengan perasaan tersebut.

bersambung di part 2

Standard
Freedom

Produser Variety Show Terfavorit, versi gw

Beberapa jam yang lalu gw ngumpul bareng Uni El dan Emy, duo sepupu yang kosannya sering gw tongkrongin zaman S1. Nanya-nanya kabar, sampai kabar adeknya Uni El, yang jadi biang gw mulai nonton variety shownya Korea. Menurut Uni El, Uni Di adeknya itu udah mulai ‘sembuh’ dari keranjingan nonton korea, yang sampai sekarang masih menggerogoti keseharian gw. Ingatan gw kembali ke beberapa tahun yang lalu…

Suatu sore, di kosan Uni El. Uni Di lagi asik ketawa-ketiwi sendirian di depan laptop. Gw penasaran, gw deketin sambil ngintip-ngintip layar. Uni Di ini nontonnya sambil pake headset jadi gw ga denger audionya. Yang gw liat dari layar hanyalah orang lari -kejar-kejaran- terus ngos-ngosan, terus ngomong terus lari lagi.
“Uni, nonton apa sih, orang lari kok ditontonin? Ade kok malah capek ya liat orang lari-lari gitu?”. Trus Uni Di jelasin lah itu program acaranya apa. Lah bener, “Orang lagi Lari” judulnya (baca: Running Man :p). Awalnya emang bener gw cape nontonnya, tegang gitu abis dijelasin konsepnya apa. Pulang-pulang gw minta lah filenya sama Uni Di buat nonton di kosan sendiri. Dari situ mulai deh gw jadi cari tau tentang acara-acaranya Korea.

Semakin kesini, gw makin banyak ketemu orang-orang yang ngasih rekomendasi acara lainnya. Selain itu juga bekal nyari ngulik sendiri dari google. Kesini-sini, gw malah jadi penggemar beratnya acara hasil tangan dari salah seorang produser acara Korea, namanya Na PD.

Nama aslinya sih Na Young Seok. Kalau kalian pernah nonton acara Korea yang kerjaannya jalan-jalan ngunjungin tempat-tempat indah di Korea, 1 Night 2 Days, nah ini Produser pertamanya, yaitu pada tahun 2007. Kalo kaya gini jadi mirip My Trip My Adventure Indonesia, hanya saja dengan adanya ciri khas acara korea, mereka punya cast member tetap yang dipilih dan ditetapkan untuk memiliki karakter/sifat tertentu. Dan di setiap episode selalu ada game konyol such as Bok-Bul-Bok, permainan mengandalkan insting dan nasib beruntung dari membernya, contohnya milih dari beberapa gelas, gelas mana yang isinya kopi biasa, mana yang isinya kecap ikan. Permainan sepele dengan bahan murah tapi udah bikin gw ketawa ngakak, menertawakan kesialan mereka :(.

Acara karyanya Na PD yang gw rekomendasi banget adalah series-nya Three Meals a Day (TMD). Acara ini konsepnya ringan banget, hanya beberapa aktor (2 – 4 orang gabungan dari aktor, penyanyi dan komedian per season) tinggal dalam 1 rumah di suatu desa atau pantai, dan mereka wajib menghasilkan beragam makanan untuk mereka makan sendiri sebanyak 3 kali sehari, dengan ketersediaan bahan yang ada.

10-18-2014-12-52-25-pm

Lee Seo Jin & Taec Yeon in Jeongseon-gun, Gangwon-do

3mealss

Cha Seung-won, Yoo Hae-jin, Son Ho-jun, Nam Joo-hyuk in Gochang-gun, Jeollabuk-do

3meals

Lee Seo-jin, Eric Mun,  Yoon Kyun-sang in Deukryang Island, Goheung-gun, Jeollanam-do

Kemudian ada series New Journey to the West (NJTTW), perjalanan beberapa orang gabungan 3 unsur di atas juga (aktor, singer dan komedian), yang inspirasinya diambil dari kisah si kera sakti,song go kong is in da house, menjadi pengawal mencari kitab suci, kera saktiii. (OST Kera Sakti zaman gw masih bocah SD). Disini konsepnya hampir sama dengan 1N2D, kalo mereka beruntung main gamenya, bisa makan, kalo sial, maka ya nahan laper.

Ada juga seriesnya bla-bla-bla over Flower (Grandpas over flower, Noonas over flower, youth over flower) yang sama juga cerita sekelompok member yang ‘diculik’ rame-rame keluar negeri dengan bekal di badan dan duit seadanya. Btw, yang ini gw lebih ngikutin Youth Over Flowernya, tapi overall hampir sama konsepnya. Gw pribadi kalo abis nonton berasa pengen langsung ngatur jadwal backpacker ke luar negeri. (Entah kapan ya?)

better-late-than-never

Terinspirasi dari Grandpas Over Flowers ini, NBC Amerika kemudian me-remake versi mereka jadi “Better Late than Never”.

Terdapat beberapa persamaan dari acara-acara di atas, yang gw asumsikan menjadi ciri khas hasil produksi dari Na PD.

  1. Dalam 1N2D dan NJTTW, adanya permainan untuk menentukan nasib dari tiap member. Permainan ini jarang dimainkan dengan jujur, pasti ada aja yang curang. Kalo mereka beruntung, maka seharian itu hidup mereka bakal nyaman, mulai dari boleh makan, ruang tidur dan alat transportasi yang nyaman.
  2. Dalam 1N2D dan TMD, Na PD melibatkan emosi penonton dengan adanya beberapa hewan peliharaan yang menambah ramai program tersebut. Jika di 1N2D season 1 yang produsernya Na PD, ada seekor anjing yang namanya Sang Geun, yang setia nemenin member kemanapun perjalanan mereka. Menurut kabar sih maskotnya 1N2D season 1 ini sudah mati pada tahun 2014. Kalau di TMD malah tiap seasonnya Lee Seo Jin ada hewannya. Yang paling lucu menurut gw adalah duo kucingnya punya Yoon Kyun Sang, Kkong dan Mong. They are so adorable cats! Video editingnya bisa banget bikin interaksi para kucing ini bikin gw senyum-senyum gemes. Ga hanya kucing ini, kehidupan member selama acara juga dipenuhi dengan beberapa hewan lain seperti Jackson and family, si kambing fans beratnya Lee Seo Jin, Minky and the kids, anak-anaknya TaecYeon, ada bebek-bebeknya Cha Seung Won, dan hewan-hewan lainnya.

 

3. Dari semua acara, selalu ada adegan zoom ke makanan yang mendidih-baru mateng. Khususnya lebih sering bisa disaksikan di Three Meals a Day. Memang kayanya show program korea lebih banyak memainkan nafsu makan penonton. Tapi nonton deh kalo Eric Shinwa lagi masak, meskipun masaknya lelet, tapi hasilnya itu kebayang aja udah enaknya.

eric

Jujur lagi, gw ngikutin cuma yang season Lee Seo Jin. Lucu aja kalo dia udah mulai digangguin sama Na PD.

4. Na PD ini sering banget muncul di layar tv, di tiap acara yang dia produseri. Kalo asumsi gw dia narsis. Hehe. Tiap dia muncul, selalu ngisengin atau bikin kesel member di acara dia yang manapun. Paling ngakak pas Song Min Ho berhasil menaklukan tantangan dia, hingga bikin kru NJTTW berhutang lamborghini ke member. Na PD sampe ngaku kalo dia cuma pengen ngerjain aja, ga nyangka kalo ternyata senjata makan tuan (NJTTW4). Poin ini sebenarnya ada juga di Infinite Challenge. Kim Tae Ho, sang produser juga sering munculin wajahnya. Sama-sama ngeselin juga, tapi well, gw lagi bahas Na PD kali ini.

 

Jadi, ujungnya adalah alasan kenapa gw suka sama the way produser Na PD to produce his show adalah karena dia mentrigger indera mata dengan tampilan hewan yang lucu-lucu (oke, membernya juga ada yang ganteng dan lucu), tampilan pemandangan yang good take, trigger selera makan gw juga (kalo gw lagi ga nafsu makan, gw puter dulu dah tu video masaknya Three meals a day), Backsoundnya sesuai lah dengan feel videonya, yang paling utama adalah, dia beranjak dari ide sederhana dalam keseharian kita, hingga dia padu padankan jadi satu show yang menarik.

Good Job Na PD! I hope I will learn personally from you someday!

(Berharap gw beneran serius belajar bahasa korea biar bisa nonton Yoon’s Kitchen, nungguin subtitle bahasa inggrisnya lama sekaleee)

Standard
Freedom

Channel Youtube di-suspended???

Udah lama punya ide untuk publish kompilasi tiap tugas mahasiswa di ide, tapi baru bisa terealisasi seminggu belakangan. Kelar editing dan compositing jadi sebuah video, akhirnya publish via youtube (karena di wordpress ga bisa langsung add video, I don’t know why?). Udah publish 1 video, trus beberapa jam kemudian publish video lain, dan beberapa jam kemudian pas mau akses youtube lagi, tiba-tiba ga bisa diakses lagi channelnya!!! (Tumpang Project Tugas namanya btw).

 

What?! Gw ngerjain editan sendiri, nyantumin nama masing-masing mahasiswa gw juga atas tiap clip karya mereka, coz I really scare my contents will hurt other people, that not what I intend to do!

Dan suspend ini ga hanya sekali, karena gw kemaren mutusin bikin channel baru, dan masih kena suspended! Gw akhirnya nyari story yang sama dengan gw, ketemu kalo suspended ini memang default saat sistem youtube deteksi yang kaya menurut mereka ada pelanggaran (yang gw ga ngerti sampe sekarang salah video gw kemaren apa, kan biar gw ga mengulangi hal yang sama lagi, gw butuh saran dan masukan dari youtubenya). Untuk nanggulangin, ternyata cukup mudah (meski ada sedikit emosian pas prosesnya), isi form untuk ngeclaim kalo video uploadan kita ga ngelanggar azaz-azaznya si youtube ini.

Formnya ngisi nama dan email, kemudian ngisi curhatan kita curhatan tentang youtube. Kira-kira curhatan gw begini (saran salah satu blog yang gw baca lebih baik curhatannya pake English, eventhough bahasa inggrisnya kemana-mana)

“Gw udah ngedit ini video ampe compositing tiap clip by myself dan ini ide gw sendiri. Channel ini gw dedikasikan buat majang karya-karya mahasiswa gw, dan untuk bahan belajar bagi orang lain. Kenapa di suspend youtube, kenapa? Please, tolongin dong bikin gw ngerti salah gw apa, gw ga maksud ngambil keuntungan sama sekali, bahkan gw cantumin list nama mereka di video gw. Please deh youtube, channel gw di free-in gitu lo…”

Form claim ini gw kirim sekitar jam 9 pagi. Dari blog yang gw baca itu tanggapan youtube bisa dalam jangka waktu beragam, ada yang cepet ada yang sampe berminggu-minggu, so kita cuma mesti nunggu. Barusan gw cek lagi akun gw (jam 1 siang), suspendednya susah ilang! Wow! Syalalala… Uuuuu… Lalalala…

Tapi sampe sekarang gw masih ga taw salah video gw teh apa. Kan kalo gw tau, gw ga mau juga bikin kesalahan yang sama. Bleh!

Standard

 

Based on  지코 (ZICO) – She’s a Baby MV

Graphic Designer

Oh My! Onde reenacment Zico – She’s a Baby

Image
Freedom

Setelah tanggal itu…

Adalah tulisan ini gw buat setelah menghitung dan menimbang inti, teruntuk teman-teman yang gw cintai karena Allah. Mulai dari awal kepikiran mau ikutan, sampai sekarang, kata-kata berputar di otak gw, namun belum ketemu yang pas untuk mewakili apa yang gw rasakan kemaren, 1 dan 2 Desember 2016. Aksi itu bagi gw bukan hanya tentang hari H, namun adalah kebimbangan gw dari hari sebelumnya. (Oya, kenapa tulisan ini spesial untuk teman-teman yang gw cintai? Berhubung tulisan ini utamanya gw publish di laman Faceb**k gw, yang list pertemanan sudah gw sensor, sehingga yang menjadi teman gw sebagian besar dan hampir keseluruhan adalah manusia-manusia yang gw kenal dekat, orang yang pernah gw temui, manusia penyusun kalimat yang hasil tulisannya gw sukai. Gw pengen publish tulisan ini, tanpa harus terang-terangan menyinggung orang yang berlain pendapat sama gw, karena apa? karena gw pengen kita saling mengerti, terserah apapun pendapat kalian.

4 hari sebelum Aksi Doa dan Jumatan Super Bersama pada tanggal 2 Desember 2016.

Ada 2 panggilan telfon yang masuk di mobile phone gw. Pertama dari Ibu, kedua dari kakak kelas gw. Saat gw telfon balik, yang mengangkat hanya si kakak (gw maklum, Ibu sangat sibuk). Begitu sapaan dari sana terdengar, nada bicaranya sangat serius. Gw yang awalnya tidur-tiduran sambil nelfon, langsung duduk tegak karenanya. “De, kita akan ke Jakarta untuk aksi 2 Desember, jadi… (blablabla dilanjutkan dengan penjelasan lainnya)”.

Reaksi gw (1) sumringah karena bisa ketemu teman lama, (2) mendadak galau ingat jadwal  untuk Jumat. Tapi, gw tetap menjalankan amanah untuk menghubungi teman lama yang lain. Berbagai jawaban gw dapatkan, dari yang lagi hamil, ada kerjaan, sampe jawaban SIAP dengan semangat. Ngobrol singkat waktu menghubungi mereka, bikin gw lupa bahwa ada 1 perasaan galau yang belum tuntas.

2 malam sebelum Aksi Doa dan Jumatan Super Bersama pada tanggal 2 Desember 2016.

Teman lama gw kembali menghubungi, untuk memberi kabar kedatangan mereka. Gw menyampaikan permintaan maaf, sepertinya gw ga bisa ikut, karena ada jadwal interview untuk menjadi staf pengajar di Universitas Multimedia Nusantara jam 9 pada hari Jumat tersebut. Gw akan usahakan agar setidaknya gw bisa ketemu sama rombongan sehari sebelum aksi, untuk memberikan semangat, dukungan dan doa. Setelah telfon ditutup, gw cek laman Facebook, ternyata ada berita bahwa para santri berdatangan dari Ciamis dengan berjalan kaki, ke Ibukota negara, untuk berjuang di Aksi Doa dan Jumatan bersama ini.

Ingatan gw kembali pada percakapan beberapa jam lalu bersama seorang teman. Saat gw bilang kemungkinan gw untuk ikut 212, dia langsung bilang “Kamu ikut?ngapain sih pake ikut segala?” Gw termangu diam dengan ucapannya sambil angkat bahu. “Bukannya kamu ada interview? udah interview aja lo,” Gw menghela nafas.

“Udahlah ga dibahas, aku tau pendapat kita berbeda, aku jelasin juga, ga bakal ada ujungnya. Well, pokoknya kemungkinan kayanya aku ikut aksi aja, udah.”

Gw padahal saat itu masih berat hati untuk ikut interview aja daripada aksi, toh, palingan cuma kurang satu orang gw ga bakal berasa ya, lagian gw kan lagi berjuang juga untuk masa depan. Allah Maha Mengerti pasti.

Tapi, kemudian gw melihat berita ada yang jalan kaki dari Ciamis, (kalo ga salah kurang lebih 300 km dari Ibukota, CMIIW), ada perasaan lain yang masuk dan membangun pertanyaan di hati gw.

Yakin de ga iri? Yakin de nanti ga nyesel? Yakin de nanti ga nyalahin diri sendiri?

Atas apa? Ninggalin aksi atau ninggalin interview?

1 hari sebelum Aksi Doa dan Jumatan Super Bersama pada tanggal 2 Desember 2016.

Gw berjalan lunglai ke arah Fakultas, efek dari ga bisa tidur semalaman. Berharap agar adek-adeknya ga pada masuk, sehingga gw bisa pulang atau beristirahat di rumah kakak senior gw barang setengah jam. Tapi mereka hadir, meski hanya 4 orang, dan gw tetap mengajar seperti biasa. Beberapa jam kemudian, gw sudah jalan kaki menuju ke rumah senior yang menjadi tempat beristirahatnya teman-teman lama gw. Lunglai dan ngantuk itu masih ada, namun hilang begitu gw bersenda gurau bersama teman lama. Rencana gw awalnya cuma mau ketemu sebentar, abis itu pulang istirahat. Tapi gw malah keterusan ikut silahturahim, ujung-ujungnya nebeng ke tanah abang. Dan galau itu belum berakhir, (meski gw udah kirim email permohonan maaf agar diundur waktu interview ke siang hari ke pihak sana, dan belum dapet balasan juga), hingga gw ketiduran di kereta nyaris sampe ujung pemberhentian terakhir, dan galau itu masiiih belum berakhir, meski gw udah makan sebungkus nasi padang. Galau itu berhenti sejenak, hanya karena gw ketiduran dan lupa pada bahan presentasi, untuk kemudian bangun kembali saat azan magrib.

Jam 9 malam, 1 hari sebelum aksi.

Muwet ngerjain presentasi buat besok, soalnya pikiran masih disana, bersama rombongan teman lama. Gw ambil jalan tengah. Gw beresin perlengkapan aksi dan buat interview. Sempat lama karena lupa belom ngeprint-ngeprint. 1 jam kemudian gw udah lari tergopoh-gopoh menuju stasiun kereta. Lokasi kumpul tiba-tiba diperbaharui, sehingga butuh transit 2x, dan di stasiun transit kedua, gw baru sadar kalo ada batas waktu kereta terakhir (soalnya di stasiun deket kosan yang suara keretanya kedengaran kalo lewat, malam-malam juga masih kedengaran suaranya, kirain kereta tidak pernah tidur. Ha!). Perjalanan malam itu, jam 11.21 malam, gw lanjutkan dengan fasilitas gojek (deg-degan luar biasa sambil doa ga henti dalam hati, semoga Allah melindungi, semoga abang gojek baik, semoga perjalanan gw aman).

20 menit kemudian, gw sampe di rombongan. Ngumpul selama sejam, dilanjutkan dengan tinjau lokasi malam itu juga sambil cari makanan pengisi malam. Sempat sebelumnya salah seorang senior mempertanyakan keputusan gw untuk hadir besok dengan pandangan tegas menusuk mata.

Bismillah, keputusan gw bulat sudah. Gw memilih satu jalan saja, merelakan interview, karena gw yakin, hanya Allah Maha Mengetahui keberkahan takdir gw ada di jalan apa, dan gw yakin saat gw membela agama gw, itu pilihan yang paling benar yang bisa gw ambil, tidak ada keraguan lagi. Gw menerima dengan ikhlas resiko dari keputusan gw. Sampe di hotel udah jam 3 pagi. Namun tekad buat buat ngerjain buat besok presentasi sampe selesai masih kuat. Jika Allah meridhoi, maka besok gw akan diberi kesempatan untuk bisa interview, atau mendapatkan kabar baik lainnya.

Jam 4.30 pagi, bahan presentasi siap disajikan, dan azan sudah berkumandang. Dari jendela hotel gw bisa saksikan, padatnya jembatan penyebrangan menuju mesjid Istiqlal oleh para jamaah yang ingin menunaikan solat subuh berjamaah di Mesjid Istiqlal (dan gw baru tahu, bahwa jamaah juga mengejar solat subuh di Monas).

Btw, alasan gw bersikeras tidak melepaskan kesempatan interview adalah, gw mengakui UMN merupakan universitas yang mampu memberikan kebaikan ilmu pengetahuan berupa kesempatan dan pengembangan bagi gw. Sekali awal gw menginjakkan kaki di universitas itu, gw punya harapan untuk bisa bergabung disana, terlepas dari alasan yayasannya apa dan bagaimana, gw adalah orang yang memandang dari apa yang gw saksikan dan rasakan sendiri, jadi alasan perbedaan background itu sama sekali tidak menganggu gw.

Yang mau gw tekankan pada tulisan ini adalah bahwa, tidak hanya gw si tukang galau, setiap peserta aksi, ikut dengan alasan mereka sendiri yang gw yakin adalah demi Allah dan agama-Nya. Tekad mereka untuk membela dan menjaga agama mereka, tanpa mengharapkan apapun balasan di dunia, dengan ikhlas menyisihkan gaji untuk membiayai perjalanan, menguatkan hati dan diri untuk berangkat menyisiri jalanan panjang dengan berjalan kaki, meninggalkan keluarga yang dicintai di rumah dengan persiapan mental berjihad apapun keadaannya nanti di lapangan, atau berani membawa serta anggota keluarganya (gw menyaksikan sendiri sewaktu bubar dari Monas, satu keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu muda serta 4 orang anaknya yang masih kecil bahkan balita, tidak terlihat lelah dan gentar berada dalam kerumunan padat jamaah. Anak-anaknya tidak menangis, hanya sesekali bersandar pada kaki ayahnya). Mereka tidak bodoh ataupun dibodohi Teman, yakinlah itu. Karena yang menggerakkan mereka adalah bukan bisikan tetangga bisikan bos, tetapi bisikan dari hati kecil mereka.

Mari kita saling mengerti, menghargai pilihan yang berbeda dengan memaklumi, tidak mencaci atau mengkritik, janganlah omongan yang tidak sepantasnya kalian lontarkan pada kami yang memilih jalan ini, memancing kami sehingga merusak amal ibadah yang telah kami niatkan dan lakukan lillahi ta’ala. Apapun yang terjadi sebenarnya menurut pemahaman kalian dan itu berbeda dengan fikiran kami, tidak mengapa Teman. Sekali lagi, jangan sadis, jangan tega, jika tidak bisa membantu membangun pahala kami, maka jangan kurangi pahala ibadah kami.

Salam sayang dari gw.

Standard

ade-3-2-02

Pengen banget punya yang bagus biar bisa ditempel di dinding kamar, belajar lagi, lagi belajar… Bisa dibilang kalo ini versi ‘extreme’. Selama ini selalu malu-malu, takut-takut, batas-batas kalo bikin apa2. Timid person banget… Well, on progress while on escape lah ya. Keep going de, keep going…, unless you’re dying. Yash!

Enjoy Life, Graphic Designer, I am Studying

Do Extreme, Don’t Think!

Image